Islam dan Matematik

Posted in Islam on Feb 23, 2008

Oleh Faris Amudi

Matematik tidak hanya memiliki nilai kebenaran bukti tapi juga nilai keindahan yang agung. Saya kagum dengan ungkapan Bertrand Russel mengenai matematik, “Suatu keindahan, bagai ukiran, tanpa memohon belas kasih bantuan alam, tanpa keindahan musik yang menjerat dan memikat, keindahannya murni dan agung, mampu menuju kesempurnaan, sungguh merupakan seni teragung yang pernah dimiliki oleh seni itu sendiri.”

Kemudian saya tertegun dengan komentar St Augustine, pemikir Kristen terkemuka abad pertengahan, “Pemeluk Kristen yang baik dan taat harus menghindari ahli matematik. Bahaya besar telah tiba karena para ahli matematik telah mengadakan akad dengan setan untuk menggelapkan jiwa manusia dan mengurungnya dalam ikatan neraka.”

Tak kalah garang, para hakim agung Roma membuat slogan hukum, “Dalam mempelajari geometri, ilmu yang tercela dan terkutuk seperti matematik adalah HARAM hukumnya.”

Dua belas abad kemudian, Ahmad Sirhindi menjuluki ahli matematik sebagai orang idiot dan para pemujanya lebih tolol dan hina karena dia mengira bahwa matematik dan mempelajari matematik tidak ada manfaatnya untuk kehidupan manusia kelak di akhirat nanti.

Kecaman keras terhadap matematik ini terjadi pada zaman medieval yang terkenal obscure, dogmatic, dan irrasional. George Sarton membagi History of Science dalam beberapa zaman, setiap zaman berasosiasi pada seorang pemikir ternama, dan berakhir pada setiap setengah abad. Dari 450 BC sampai 400 BC adalah era Plato, dari 400 sampai 350 BC adalah era Aristotle, dan seterusnya.

750 M sampai 1100 M adalah merupakan zaman dimana dalam kurun 350 tahun secara keseluruhan peradaban dan ilmu didominasi oleh dunia Islam, zaman yang tak terkalahkan secara berturut-turut muncul nama-nama dari Jabir, al-Khawarizmi, ar-Razi, al-Mas’udi, al-Wafa, al-Biruni. dan Umar Khayyam. Dan hanya setelah abad ke-11 M barulah muncul nama-nama seperti Gerard dan Roger Bacon. Tapi kehormatan atas ilmu masih disandang ulama-ulama Muslim dalam kurun dua abad berikutnya yaitu Ibn Rushd, Nashiruddin at-Thusi, dan Ibnu Nafis.

Namun setelah 1350 M umat Islam tenggelam dalam samudra dogmatis yang hanya menelurkan beberapa ilmuwan handal pada abad 15 M.

Sejarah mengungkapkan fakta bahwa scientific brilliance selalu dibarengi dengan perkembangan matematik. Pada kenyataanya penemuan-penemuan matematik telah memuluskan jalan menuju kemajuan spektakuler dalam sejarah ilmu dan teknologi. Tidak ada satu negara pun yang pernah mencapai kesuksesannya tanpa penguasaan matematik. Ketika umat Islam mendominasi dunia sains, mereka sangat hebat dalam matematik.

Musa Al-Khawarizmi (780-850 M) merupakan salah satu dari scientific minds of Islam, yang mempunyai pengaruh dalam pemikiran matematik lebih dari ilmuwan abad pertengahan manapun. Dia tidak hanya menyusun buku aritmetika namun juga tabel-tabel astronomi. Magnum opusnya hisab al-jabr wa-l-muqabalah telah diterjemahkan kedalam bahasa latin dan digunakan selama empat abad sebagai buku panduan utama dalam mata kuliah aljabar di universitas-universitas terkemuka di seluruh Eropa.

Dengan mengenalkan jumlah yang tidak diketahui kemudian menemukannya, aljabar menjadi the open-sesame untuk berbagai penemuan; the be-all dan end-all dari semua ilmu sains.

Penyair ternama dan juga ahli matematik yang handal, Omar Khayyam (1048-1122 M) dan Nashiruddin at-Thusi (1201-1274 M) menunjukkan bahwa setiap besaran rasio, yang sepadan maupun tidak, adalah bilangan, rasional maupun irrasional. Dan teori tersebut kemudian secara pelan dan lambat menuju kesempurnaannya disaat bermulanya zaman renaissance di Eropa.

Iqbal, pemikir kenamaan asal Pakistan memuji at-Thusi karena telah melontarkan pertanyaan terhadap the uclidean postulate atas pararelism. Omar khayyam merupakan ilmuwan pertama yang membuktikan bilangan dari teori non-euclidean geometry yang nantinya ditemukan oleh Lobchersky, Riemann, dan Gauss secara terpisah selama pertengahan abad 19 M.

Omar Khayyam telah mendahului sejak 7 abad sebelum mereka, yang mana di kemudian hari, Einstein menggunakan the non-euclidean geometry untuk mengantarkannya pada “dunia baru” dalam bidang sains. Tidak ada petunjuk dan rumusan yang tidak dipecahkan oleh Umar Khayyam. Beliau juga mulai menggunakan grafik untuk mengkombinasi aljabar dan geometri untuk membuktikan persamaan kubik.

Pasti akan selalu diingat bahwasannya seorang jenius bernama Descartes yang kemudian memperagakan the tour de force dari kombinasi aljabar dan geometri, bersamaan dengan penemuan filsafat barunya dengan diktumnya yang terkenal, “cogito ergo sum”.

Belum ada lagi pemikir dunia Muslim yang mengikuti jejak Umar Khayyam dan menguatkan rasionalism, karena Imam Ghazali telah “terlanjur” menulis tahafutul falasifah. Memang, Ibnu Rushd kemudian juga menulis tahafut-tahafut. Namun sayangnya dunia Muslim menolaknya, sebaliknya orang Eropa berebut mengambilnya. Orang Eropa menjadi averoist; pengikut setia Ibn Rushd.

Al-Biruni sukses dengan the idea of function, yang mana menurut Spengler, adalah simbol barat yang mana tidak ada peradaban lain yang bisa memberikannya walaupun hanya sekedar petunjuk dan gambaran. The idea of function yang dilontarkan al-Biruni mengenalkan konsep inter-dependence dan movement, melihat dunia sebagai sebuah kumpulan proses inter-dependence.

Konsep ini merupakan konsep dialektik. Namun lagi-lagi disayangkan bahwa umat Islam tidak bisa mengembangkan embrio yang brilliant tersebut, dan akhirnya konsep tersebut berhibernasi selama berabad-abad karena umat Islam terbuai dalam lantunan ninabobo dogmatism dan irrationalism. Embrio tersebut baru muncul dan lahir kembali tatkala tersentuh oleh peradaban barat, sungguh ironis. Ide yang dinamis tidak akan pernah maju dalam lingkungan masyarakat yang statis.

Akhirnya, pada abad ke 17 M, secara tragis namun desisif, supremasi sains berputar “melawan” dunia Muslim, sungguh sayang.

Geometri Descartes diterbitkan pada tahun 1637 M. Ahmad Sirhindi meninggal pada tahun 1624 M, namun dia sudah terlanjur mengutuk matematik dengan ungkapan yang tegas dan lugas. Dengan mengecam matematik, kita telah melangkah jauh keluar dari parade barisan ilmu sains dan teknologi.

Seperdelapan dari ayat-ayat Al-Qur’an menekankan tadabbur, tafakkur, dan ta’aqqul. Implikasinya adalah bahwasanya Al-Qur’an menjunjung tinggi supremasi akal. Tatkala kita menolak akal dengan mudah kita akan menjadi korban obscurantism dan dogmatism. Worldview kita masih medieval. Islam telah menjalani transformasi dari revolusi aljabar menuju stagnasi aritmetik.

Tidak akan pernah berkembang matematik dan ilmu sains serta teknologi kecuali apabila dan hingga weltanshauung (worldview, red.) kita telah bersandar pada asas tafakkur, tadabbur, dan menjadikan ta’aqqul sebagai penjaga “pintu masuk” dunia Islam.

Islam bukanlah sistem yang tertutup sebagaimana pandangan kaum orthodox. Karena hal tersebut malah akan mencoreng citra Islam sebagai agama yang universal “rahmatan lil ‘alamin”. Islam adalah keimanan dimana Tuhan menyediakan manusia sesuatu yang baru, pada tiap paginya, “sarapan” yang bisa menjadi problem solving bagi berbagai permasalah-permasalahan baru yang muncul saat itu.

Trackback URI | Comments RSS

2 Responses to “ Islam dan Matematik ”

  1. # 1 carissa Says:

    Great article! guwe jadi tau berkat informasi loe. guwe juga suka buku-buku yang ngulas tentang islam dan muhammad, termasuk buku yang satu ini, asli cakep dah. thx.

  2. # 2 umar khayyam Says:

    [...] that a dark minded person … and denigrating him. Umar Khayyam Haider. Pakistan Tehreek-e-Insaf …Islam Agama Ku | Islam dan Matematikdan Umar Khayyam. Dan hanya setelah abad ke-11 M barulah muncul nama-nama seperti Gerard … Omar [...]

Leave a Reply