Archive for February, 2008

Islam dan Matematik02.23.08

Oleh Faris Amudi

Matematik tidak hanya memiliki nilai kebenaran bukti tapi juga nilai keindahan yang agung. Saya kagum dengan ungkapan Bertrand Russel mengenai matematik, “Suatu keindahan, bagai ukiran, tanpa memohon belas kasih bantuan alam, tanpa keindahan musik yang menjerat dan memikat, keindahannya murni dan agung, mampu menuju kesempurnaan, sungguh merupakan seni teragung yang pernah dimiliki oleh seni itu sendiri.”

Kemudian saya tertegun dengan komentar St Augustine, pemikir Kristen terkemuka abad pertengahan, “Pemeluk Kristen yang baik dan taat harus menghindari ahli matematik. Bahaya besar telah tiba karena para ahli matematik telah mengadakan akad dengan setan untuk menggelapkan jiwa manusia dan mengurungnya dalam ikatan neraka.”

Tak kalah garang, para hakim agung Roma membuat slogan hukum, “Dalam mempelajari geometri, ilmu yang tercela dan terkutuk seperti matematik adalah HARAM hukumnya.”

Dua belas abad kemudian, Ahmad Sirhindi menjuluki ahli matematik sebagai orang idiot dan para pemujanya lebih tolol dan hina karena dia mengira bahwa matematik dan mempelajari matematik tidak ada manfaatnya untuk kehidupan manusia kelak di akhirat nanti.

Kecaman keras terhadap matematik ini terjadi pada zaman medieval yang terkenal obscure, dogmatic, dan irrasional. George Sarton membagi History of Science dalam beberapa zaman, setiap zaman berasosiasi pada seorang pemikir ternama, dan berakhir pada setiap setengah abad. Dari 450 BC sampai 400 BC adalah era Plato, dari 400 sampai 350 BC adalah era Aristotle, dan seterusnya.

750 M sampai 1100 M adalah merupakan zaman dimana dalam kurun 350 tahun secara keseluruhan peradaban dan ilmu didominasi oleh dunia Islam, zaman yang tak terkalahkan secara berturut-turut muncul nama-nama dari Jabir, al-Khawarizmi, ar-Razi, al-Mas’udi, al-Wafa, al-Biruni. dan Umar Khayyam. Dan hanya setelah abad ke-11 M barulah muncul nama-nama seperti Gerard dan Roger Bacon. Tapi kehormatan atas ilmu masih disandang ulama-ulama Muslim dalam kurun dua abad berikutnya yaitu Ibn Rushd, Nashiruddin at-Thusi, dan Ibnu Nafis.

Namun setelah 1350 M umat Islam tenggelam dalam samudra dogmatis yang hanya menelurkan beberapa ilmuwan handal pada abad 15 M.

Sejarah mengungkapkan fakta bahwa scientific brilliance selalu dibarengi dengan perkembangan matematik. Pada kenyataanya penemuan-penemuan matematik telah memuluskan jalan menuju kemajuan spektakuler dalam sejarah ilmu dan teknologi. Tidak ada satu negara pun yang pernah mencapai kesuksesannya tanpa penguasaan matematik. Ketika umat Islam mendominasi dunia sains, mereka sangat hebat dalam matematik.

Musa Al-Khawarizmi (780-850 M) merupakan salah satu dari scientific minds of Islam, yang mempunyai pengaruh dalam pemikiran matematik lebih dari ilmuwan abad pertengahan manapun. Dia tidak hanya menyusun buku aritmetika namun juga tabel-tabel astronomi. Magnum opusnya hisab al-jabr wa-l-muqabalah telah diterjemahkan kedalam bahasa latin dan digunakan selama empat abad sebagai buku panduan utama dalam mata kuliah aljabar di universitas-universitas terkemuka di seluruh Eropa.

Dengan mengenalkan jumlah yang tidak diketahui kemudian menemukannya, aljabar menjadi the open-sesame untuk berbagai penemuan; the be-all dan end-all dari semua ilmu sains.

Penyair ternama dan juga ahli matematik yang handal, Omar Khayyam (1048-1122 M) dan Nashiruddin at-Thusi (1201-1274 M) menunjukkan bahwa setiap besaran rasio, yang sepadan maupun tidak, adalah bilangan, rasional maupun irrasional. Dan teori tersebut kemudian secara pelan dan lambat menuju kesempurnaannya disaat bermulanya zaman renaissance di Eropa.

Iqbal, pemikir kenamaan asal Pakistan memuji at-Thusi karena telah melontarkan pertanyaan terhadap the uclidean postulate atas pararelism. Omar khayyam merupakan ilmuwan pertama yang membuktikan bilangan dari teori non-euclidean geometry yang nantinya ditemukan oleh Lobchersky, Riemann, dan Gauss secara terpisah selama pertengahan abad 19 M.

Omar Khayyam telah mendahului sejak 7 abad sebelum mereka, yang mana di kemudian hari, Einstein menggunakan the non-euclidean geometry untuk mengantarkannya pada “dunia baru” dalam bidang sains. Tidak ada petunjuk dan rumusan yang tidak dipecahkan oleh Umar Khayyam. Beliau juga mulai menggunakan grafik untuk mengkombinasi aljabar dan geometri untuk membuktikan persamaan kubik.

Pasti akan selalu diingat bahwasannya seorang jenius bernama Descartes yang kemudian memperagakan the tour de force dari kombinasi aljabar dan geometri, bersamaan dengan penemuan filsafat barunya dengan diktumnya yang terkenal, “cogito ergo sum”.

Belum ada lagi pemikir dunia Muslim yang mengikuti jejak Umar Khayyam dan menguatkan rasionalism, karena Imam Ghazali telah “terlanjur” menulis tahafutul falasifah. Memang, Ibnu Rushd kemudian juga menulis tahafut-tahafut. Namun sayangnya dunia Muslim menolaknya, sebaliknya orang Eropa berebut mengambilnya. Orang Eropa menjadi averoist; pengikut setia Ibn Rushd.

Al-Biruni sukses dengan the idea of function, yang mana menurut Spengler, adalah simbol barat yang mana tidak ada peradaban lain yang bisa memberikannya walaupun hanya sekedar petunjuk dan gambaran. The idea of function yang dilontarkan al-Biruni mengenalkan konsep inter-dependence dan movement, melihat dunia sebagai sebuah kumpulan proses inter-dependence.

Konsep ini merupakan konsep dialektik. Namun lagi-lagi disayangkan bahwa umat Islam tidak bisa mengembangkan embrio yang brilliant tersebut, dan akhirnya konsep tersebut berhibernasi selama berabad-abad karena umat Islam terbuai dalam lantunan ninabobo dogmatism dan irrationalism. Embrio tersebut baru muncul dan lahir kembali tatkala tersentuh oleh peradaban barat, sungguh ironis. Ide yang dinamis tidak akan pernah maju dalam lingkungan masyarakat yang statis.

Akhirnya, pada abad ke 17 M, secara tragis namun desisif, supremasi sains berputar “melawan” dunia Muslim, sungguh sayang.

Geometri Descartes diterbitkan pada tahun 1637 M. Ahmad Sirhindi meninggal pada tahun 1624 M, namun dia sudah terlanjur mengutuk matematik dengan ungkapan yang tegas dan lugas. Dengan mengecam matematik, kita telah melangkah jauh keluar dari parade barisan ilmu sains dan teknologi.

Seperdelapan dari ayat-ayat Al-Qur’an menekankan tadabbur, tafakkur, dan ta’aqqul. Implikasinya adalah bahwasanya Al-Qur’an menjunjung tinggi supremasi akal. Tatkala kita menolak akal dengan mudah kita akan menjadi korban obscurantism dan dogmatism. Worldview kita masih medieval. Islam telah menjalani transformasi dari revolusi aljabar menuju stagnasi aritmetik.

Tidak akan pernah berkembang matematik dan ilmu sains serta teknologi kecuali apabila dan hingga weltanshauung (worldview, red.) kita telah bersandar pada asas tafakkur, tadabbur, dan menjadikan ta’aqqul sebagai penjaga “pintu masuk” dunia Islam.

Islam bukanlah sistem yang tertutup sebagaimana pandangan kaum orthodox. Karena hal tersebut malah akan mencoreng citra Islam sebagai agama yang universal “rahmatan lil ‘alamin”. Islam adalah keimanan dimana Tuhan menyediakan manusia sesuatu yang baru, pada tiap paginya, “sarapan” yang bisa menjadi problem solving bagi berbagai permasalah-permasalahan baru yang muncul saat itu.

Posted in Islamwith 2 Comments →

Kelebihan Tidur Siang Hari02.19.08

Tidur siang pernah dianggap sebagai salah satu tanda kemalasan. Islam menganggapnya sebagai suatu kebaikan asalkan seseorang itu tidak berlebih-lebihan dengannya.

Di dalam kitab ‘Misykatul Masabih’ disebutkan tentang salah satu amalan sunnah yang pernah dilakukan oleh Nabi:

“Tidur yang sedikit di waktu tengahari (qailulah) tidaklah keji.Rasulullah ada melakukannya.”

Imam Al Ghazali di dalam kitab ‘Ihya Ulumuddin’ telah berkata: “Hendaklah seseorang tidak meninggalkan tidur di siang hari kerana ianya membantu ibadah di malam hari sebagaimana sahur membantu puasa di siang hari. Sebaik-baiknya ialah bangun sebelum tergelincir matahari untuk solat zohor.”

Islam mempunyai pandangan tertentu tentang tidur tengahari. Ia dianggap sebagai sunnah dan bukan sebagai suatu yang keji. Tidurnya hanya sekejap. Tujuannya adalah untuk kesegaran tubuh badan agar dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan amal dan ibadah yang berkualiti.

Dewasa ini, berpandukan kajian-kajian saintifik, tidur sekejap di waktu siang (day napping), terutamanya pada waktu tengahari, didapati amat berkesan untuk mempertingkatkan tenaga,
tumpuan dan akhirnya produktiviti pekerja-pekerja.

Baru-baru ini satu kajian 25 tahun tentang kesan tidur ke atas negara-negara industri dan pasca-industri telah mendapati bahawa “92.5% pekerja-pekerja yang berkesempatan tidur di waktu tengahari, mempunyai daya kreativiti yang lebih tinggi. Daya kemampuan mereka
untuk menyelesaikan masalah juga meningkat.

Semua ini pastinya meningkatkan produktiviti.” (Napping News:’Scientific Proof Confirms: Napping Enhances WorkerProductivity,’ from eFuse)

Waktu tengahari merupakan masa yang paling sesuai untuk tidur seketika kerana sistem badan kita memang bersedia untuk memanfaatkan fasa tidur pada waktu itu. Fasa ini disebutkan sebagai ‘a midafternoon quiescent phase’ atau ‘ a secondary sleep gate.’ Di antara tokoh-tokoh yang menggalakkan tidur tengahari ini ialah Dr. William A. Anthony, Ph.D. dan Camille W. Anthony, pengarang buku ‘The Art of Napping at Work.’

Demikian juga yang disebutkan oleh David F. Dinges dan Roger J. Broughton di dalam buku mereka ‘Sleep and Alertness: Chronobiological, Behavioural and Medical Aspects of Napping.’ Dr. James Maas, pakar tidur dari Cornell University juga telah merumuskan bahawa tidur di tengahari
sekadar 15-20 minit sudah mencukupi untuk mengembalikan tenaga dan menjaga kesihatan.

Seorang pengkaji yang lain, Donald Greeley, telah mengatakan bahawa tidur tengahari adalah bermanfaat selama mana ianya tidak melebihi satu jam. (Gail Benchener: ‘Parents and Sleep Deprivation,’ Family.com)

Sunnah tidur tengahari yang diajarkan Nabi rupa-rupanya merupakan suatu yang amat saintifik lagi relevan pada hari ini. (Laporan saintifik tentang kelebihan tidur tengahari ke atas produktiviti berdasarkan kajian 25 tahun)

Wallahualam

Rujukan : YahooGroup

Posted in Islamwith 1 Comment →

Dimanakah Adab Seorang Ulama?02.18.08

Oleh M.N.I.
(Ubahsuai oleh WM)

Dalam kempen ini, UMNO akan menggunakan apa sahaja untuk menang, rasuah, ugut dan paling licik menggunakan agama untuk mengelirukan rakyat terutama yang buta fikiran.

Baru-baru ini majlis perasmian Multaqa Sedunia Alumni Al-Azhar 2008, Syeikhul Al-Azhar, Dr. Muhammed Sayyid Tantawi telah dipergunakan. Allah Maha Besar dan Bijaksana dan memastikan setiap perkara yang tidak baik untuk agamaNya pasti akan di’nyah’kan dengan satu kehinaan.

Untuk melihat gambar dengan lebih jelas, klik pada gambar.

Posted in Isu Semasawith 4 Comments →

Siksa Dunia Isteri Yang Curang02.17.08

Untuk bacaan kita bersama sebagai pengajaran dan tauladan bagi para isteri yang diceritakan oleh seorang ustaz. Begini ceritanya…

Lama benar saya tidak berjumpa dengan Ariffin. Rasanya sudah lebih Tujuh tahun sejak kawan lama saya itu di arahkan mengajar di Johor. Kerana itulah, apabila dia datang ke pejabat saya pagi itu, saya Merasa terlalu seronok.

“Eh, makin kurus nampak. Diet ke?” kata saya setelah mempersilakannya Duduk.

“Tak adalah. biasa la cikgu, kan sekarang ni macam-macam kerja. Kurikulumlah, kokurikulumlah, sukanlah. badan gemuk pun boleh jadi Tinggal tulang,” balas Arifin.

“Tengok ni ustaz, baju pun dah menggelebeh. Seluar pun longgar,” Tambah Arifin sambil menarik lengan baju untuk menunjukkan betapa Kurusnya dia dan besarnya baju yang di pakai.

Selepas bertanya itu ini dan mengusiknya serba sedikit, saya bertanya Arifin tentang hajatnya datang menemui saya. Yalah, tiba-tiba saja Muncul, pasti ada hajat yang hendak di sampaikan.

“Orang rumah saya sakitlah, ustaz”, kata Arifin.

“Patutlah aku tengok engkau lain macam aja tadi. Ketawa pun hendak Tak hendak. Sakit apa?” saya bertanya. Agak lambat Arifin menjawab. Dia menarik nafas, kemudian meraup muka dan seterusnya bersandar di Kerusi. Setelah itu disorotnya mata saya dalam-dalam.

“Entahlah.” katanya perlahan,

” Lima tahun lalu tiba-tiba saja badan dia melepuh-lepuh. Di kaki, Paha, perut, dibelakang. penuh dengan lepuh macam orang terkena air Panas,”kata Arifin.

Tambah kawan lama saya itu, dia telah membawa isterinya, Niza, ke Serata hospital dan klinik, namun ubat yang di beri oleh doktor tidak Dapat melegakan penyakitnya.

“Sakit apa, doktor pun tak tau,”tambahnya.

“Dah pergi berubat kampung?”saya bertanya.

“Dah,tapi macam biasalah. bomoh, cakap kena buat orang, terceroboh Kawasan orang bunian., sampuk. macam-macam lagi. Duit banyak habis, Masa terbuang, tapi sakitnya tak juga sembuh,”jelas Arifin.

Malah, kata kawan saya itu, lepuh-lepuh menjadi bertambah banyak pula Hingga tubuh isterinya yang langsing menjadi sembab. Wajahnya yang Cantik juga berubah murung, kusut

“Itu masih tak mengapa ustaz. Yang menambahkan kebimbangan saya, Setelah beberapa lama, lepuh-lepuh itu bertukar pula jadi gerutu dan Berbintil-bintil macam katak puru,” tambah Arifin.

Akibatnya, sekali lagi Niza menderita kerana selepas tubuhnya hodoh Akibat sembab, seluruh kulitnya yang dulu licin menjadi jelik. Dari tangan, bintil-bintil kecil dan besar seperti bisul tumbuh merata, kaki hingga ke muka.

Disebabkan penyakit itu, kawan-kawan yang datang melawat terkejut kerana hampir tidak mengenalinya lagi. Akibatnya, Niza terpaksa berhenti kerja. Dia malu untuk berhadapan dengan kawan sepejabat.

Memang ada yang bersimpati tapi ada juga yang mengejek. Ramai yang menyindir di belakang, tapi ada juga yang tanpa rasa bersalah mengaibkannya secara berhadapan.

Dua tiga tahun berlalu, penyakit Niza bertambah parah. Sehelai demi sehelai rambutnya gugur hingga hampir botak. Rambut yang lembut mengurai menjadi jarang hingga menampakkan kulit kepala yang memutih. Keadaannya itu sangat menyedihkan kerana usia awal 30an, rambutnya seperti wanita berumur 90an. Seperti daun getah luruh di musim panas, semakin hari semakin banyak rambut Niza gugur. Dalam waktu yang sama, kuku tangan dan kakinya juga menjadi lebam. Daripada biru, ia bertukar kehitaman seperti di penuhi darah beku.

“Tiap hari, dia termenung. Dia mengeluh, kenapalah dia sakit macam ni. Kenapa dia, bukan orang lain? Apa salah dia? Kasian betul saya tengok,” kata Arifin. Wajahnya sayu

“Hidup kami pun jadi tak terurus macam dulu”.

Di sebabkan doktor tempatan gagal menyembuhkan penyakit Niza, Arifin membawa isterinya ke Singapura. Hampir sebulan mereka di sana dan banyak wang di habiskan namun pulang dengan hati kecewa. Doktor di negara itu juga tidak dapat mencari penawar keadaan penyakit berkenaan.

“Sekarang ni, keadaan isteri saya dah bertambah teruk. Bila malam saja dia meraung, meracau dan menangis-nangis. Jadi, saya harap ustaz dapatlah tolong serba sedikit sebab dah habis ikhtiar saya mengubatnya cara moden,”tambah Arifin.

“InsyaAllah.” Balas saya.

Tapi saya mula terasa pelik. Perasaan ingin tahu mula bercambah kerana berdasarkan pengalaman, kata-kata yang diluahkan semasa seseorang yang meracau dapat membantu kita merawatnya. Ini kerana semasa meracau itulah dia meluahkan segala yang terbuku di hati.

“Apa yang dia cakap masa meracau tu?”

“Macam-macam ustaz. tapi ada waktunya dia minta ampun maaf daripada saya. Saya tanya kenapa? . Dia tak cakap, Cuma minta maaf saja. Yalah. orang dah sakit memang macam tu,”kata Arifin.

Saya cuma mendiamkan diri. Mengiakan tidak, menggeleng pun tidak. Setelah berbincang lama, dia meminta diri . Sebelum pulang, saya berjanji untuk ke rumah Arifin pada malam esoknya.

“Datang ya, ustaz . Saya tunggu,”katanya sambil mengangkat punggung.

Dia kemudiannya melangkah lemah meninggalkan pejabat saya. Seperti yang dijanjikan, saya sampai ke rumahnya selepas isyak.

“Jemput masuk ustaz,”Arifin memperlawa sambil membawa saya ke sebuah bilik.

“Dia baring dalam bilik ni. Ustaz jangan terkejut pula tengok muka dia. Orang rumah saya ni sensitif sikit,” bisiknya sebelum kami masuk ke bilik berkenaan.

Sebaik pintu di buka, kelihatan seorang wanita berselimut paras dada terbaring mengiring mengadap ke dinding.

“Za. Ni Ustaz Nahrawi datang,”kata Arifin perlahan sambil memegang bahu isterinya. Dengan lemah, Niza menoleh. MasyaAllah memang keadaan Niza sangat menyedihkan . Wajahya penuh dengan bintil-bintil yang menggerutu. Matanya terperosok ke dalam manakala tulang pipi membojol seperti bongkah batu yang membayang dipermukaan tanah. Badannya pula kurus cengkung dan kepala separuh botak menandakan dia sudah lama menderita. Niza cuma tersenyum tawar memandang saya. Saya dekati dia dan selepas lima minit meneliti keadaannya, saya panggil Arifin ke sudut bilik.

Dengan suara separuh berbisik, saya bertanya;”Pin, saya nak tanya sikit, tapi sebelum tu minta maaflah kalau nanti awak tersinggung”.

“Tak adalah,ustaz. Tanyalah, saya tak kisah,” jawab Arifin.

“Err,. dari mana datangnya bau yang.” soal saya, tapi tak sanggup nak menghabiskannya. Bau yang saya maksudkan itu agak busuk.

“Ooo. mmm, dari alat sulit dia,”kata Arifin perlahan.

“Keluar lendir bercampur nanah.”

Saya tidak memanjangkan lagi topik itu kerana tidak mahu memalukanArifin dan isterinya. Lagi pun tidak manis untuk bertanya tentang hal- hal yang seperti itu.

Sebelum kami duduk semula di sisi Niza, saya memberitahu Arifin, kadangkala di timpa penyakit sebegini sengaja di turunkan balasan oleh Allah kerana ada melakukan dosa atau derhaka kepada ibu atau bapa. Lantas saya bertanya, adakah Niza sudah meminta ampun daripada ibu bapanya.

“Sudah ustaz. Dengan emak dan ayah nya saya pun sudah.”

“Kalau macam tu, baguslah,”kata saya.

Setelah merawat Niza dengan doa dan ayat yang dipetik dari al-Quran, saya meminta diri. Sebelum itu saya nasihatkan Arifin dan Niza serta keluarga mereka supaya bersabar dengan ujian Allah.

“Sama-samalah kita berdoa supaya dia sembuh,” kata saya sebelum meninggalkan rumah Arifin.

Sudah ketentuan Allah, rupa-rupanya keadaan Niza menjadi bertambah parah. Perkara ini saya ketahui apabila Arifin menghubungi saya beberapa minggu kemudian. Menurut kawan saya itu, isterinya kini kian teruk racaunya.

Memang benar. Bila saya menziarahnya petang itu, Niza kelihatan semakin tenat. Sekejap-sekejap dia meracau yang bukan-bukan. Malah saya pun tidak dikenalinya lagi.

Sebelum pulang saya menasihatkan Arifin supaya melakukan solat hajat memohon ke hadrat Ilahi supaya menyembuhkan isterinya. Nasihat saya itu dipatuhi namun beberapa hari kemudian Arifin menalifon lagi. Kali ini suaranya lebih sedih, seperti hendak menangis.

“Ustaz,”katanya,

“Sekarang barulah saya tau kenapa dia jadi macam tu”

“Kenapa?”pantas saya bertanya…

“Sejak dua tiga malam lepas, dia minta ampun daripada saya dan ceritakan segala-galanya”. Arifin menyambung ceritanya;

Malam itu saya terkejut sebab semasa meracau isteri saya minta ampun kerana telah mengenakan ilmu kotor kepada saya. Kata Niza, dia telah memasukkan darah haid dan air maninya ke dalam makanan saya.

Saya tanya “Kenapa?”

Dia jawab, supaya ikut kata-katanya dan tak cari perempuan lain.

“Tambah saya kesal, selepas itu dia meminta ampun pula kerana telah berlaku curang kepada saya. Kata Niza, dia lakukan perbuatan tu selepas saya ditundukkan dengan ilmu hitam.”

Saya tanya, masa bila awak buat? Dia jawab semasa ketiadaan saya, tidak kira lah semasa saya bertugas di luar daerah. Semasa keluar seorang diri, dia telah membuat hubungan sulit dengan beberapa lelaki.

“Niza sebutkan nama lelaki-lelaki itu, tapi saya tak kenal. Kata Niza, hubungan mereka bukan setakat kawan saja, malah sudah ke tahap zina. Kerana itu dia minta berbanyak-banyak ampun daripada saya.

Dia minta saya maafkan.”Saya tak sangka betul, ustaz. Madu yang saya beri, racun yang dibalasnya. Patutlah selama ini bila berdepan dengan dia saya jadi hilang pertimbangan. Saya jadi lemah, rasa diri saya kerdil, takut nak membantah. Sudahlah begitu, dia jadi perempuan.” Kata Arifin tanpa sanggup menghabiskan kata-katanya. Termenung saya mendengar ceritanya itu.

Tidak saya sangka Niza sanggup berkelakuan demikian kerana Arifin bukan orang sebarangan. Arifin berpelajaran agama dan setia kepada isterinya. Budi bahasa pun elok.

“Kalau sudah begitu bunyinya, saya rasa awak maafkanlah dia,”kata saya.

Selain itu saya mencadangkan kepada Arifin supaya merelakan isterinya pergi.

Kata saya, mungkin nyawa isterinya itu terlalu sukar meninggalkan jasad kerana dia mahukan keampunan daripada suaminya terlebih dahulu.”

Lagipun, dia sudah terlalu menderita, sampai badan tinggal tulang, kepala pun dah nak botak. Doktor pula sudah sahkan penyakit dia tidak dapat disembuhkan lagi. Jadi, pada pandangan saya, daripada dia terus azab menanggung seksaan sakaratulmaut, adalah lebih baik kalau awak relakan saja dia pergi.

Saya tau ia susah nak di buat, tapi keadaan memaksa.”

“Ampunkan dia?” Arifin bertanya balik.

“Dia dah derhaka dengan saya, buat tak senonoh dengan lelaki lain, kenakan ilmu sihir kepada saya, ustaz mau saya maafkan dia?”tingkah Arifin dengan suara yang agak keras.

Mungkin dia terkejut.

“Ya. dia pergi dengan aman dan awak pula dapat pahala,” jelas saya. Saya terus memujuknya supaya beralah demi kebaikan isterinya. Saya katakan, yang lepas itu lepaslah. Lagi pun Niza sudah mengaku dosanya, jadi adalah lebih baik Arifin memaafkannya. Mungkin dengan cara itu Niza akan insaf dan meninggal dengan mudah.

“Takkan awak nak biarkan dia menderita? Awak nak pukul dia? Maki dia? Tak ada gunanya. Maafkan saja dia dengan hati yang benar-benar ikhlas,” jelas saya.

Setelah puas memujuk, akhirnya Arifin mengalah juga. Lalu saya nasihatkan supaya dia bacakan surah Yasin tiga kali dan ulangkan ibu Yasin (salaamun qaulam mirrabir rahim) sebanyak tujuh kali.

“Buat malam ni juga. Lepas itu tunaikan solat,” kata saya. Seminggu kemudian Arifin menelefon saya. Dengan sedih beliau memaklumkan isterinya sudah meninggal dunia. Tambah kawan saya itu, Niza pergi tanpa sesiapa sedari kerana ketika itu dia sedang menunaikan solat Isyak. Bila kembali, dia lihat isterinya tidak bernyawa lagi.

“Tapi Alhamd ulil lah, sebelum pergi dia sempat minta ampun daripada saya sekali lagi kerana menderhaka. Marah, memang marah, tapi bila dia pegang tangan saya sambil menangis dan kemudian minta ampun, tidak sanggup juga rasanya untuk membiarkan dia pergi dalam keadaan tanpa kemaafan daripada saya. Ustaz, saya dah ampunkan dia.

“Namun demikian, kata Arifin, lendir dan nanah busuk masih lagi mengalir daripada alat kelamin Allahyarham isterinya itu sehinggalah mayatnya dikebumikan.

Kepada wanita, kutiplah pengajaran dari cerita ini. Kepada lelaki, hati-hatilah dalam memilih isteri, jangan pandang hanya pada rupa.

Posted in Kisah dan Tauladanwith 17 Comments →

Ustaz Akil Hayy - Islam Hadari vs Islam Hakiki02.16.08

Posted in Ceramah, Ustaz Akil Hayy, Videowith No Comments →

Ustaz Kazim Illias - Ciptaan Allah02.14.08

Posted in Ceramah, Videowith No Comments →

Beginikah Sikap Pelajar Perempuan Melayu Kita?02.11.08

Inilah tingkahlaku pelajar perempuan Melayu sekarang yang tidak ada sikap bertanggungjawab dan tidak tahu malu lagi. Sungguh memalukan dengan tindakan pelajar perempuan yang bergaduh itu. Tetapi lebih parah lagi sorakan, pekikan dan arahan yang dilaungkan oleh pelajar-pelajar lain yang menonton seolah-olah sedang menyaksikan sebuah pertandingan yang hebat.

Adakah mereka ini ‘GILA’? Suka melihat keganasan dan perkelahian? Fikirkanlah sendiri…inilah pelajar Melayu Islam di dalam Bandar Raya Kuala Terengganu yang begitu berbangga dengan Taman Tamadun Islamnya.Sungguh HEBAT! Pelajar perempuan pun dah pandai Kung Fu sekarang ni!

Related Post
Isu Pelajar Melayu & Babi

Posted in Islam, Videowith 1 Comment →